Tuesday, 27 November 2012

Perilaku Komunikasi Nonverbal Jerman vs Indonesia :)

PERILAKU KOMUNIKASI NONVERBAL
JERMAN vs INDONESIA
Paper ini disusun dalam rangka untuk memenuhi Tugas Mata kuliah Manajemen Humas
Dosen Pengampu: Naviah Kaviati, S.T.
Disusun oleh :
INA AFIFAH
NIM : 10141007
S1 MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM TERPADU
YOGYAKARTA
2012

PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat, norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pada kenyataanya seringkali kita tidak bisa menerima atau merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi akibat interaksi tersebut, seperti masalah perkembangan teknologi, kebiasan yang berbeda dari seorang teman yang berbeda asal daerah atau cara-cara yang menjadi kebiasaan (bahasa, tradisi atau norma) dari suatu daerah sementara kita berasal dari daerah lain. Dari sebuah hubungan interaksi sosial itu menimbulkan suatu budaya baru yang berawal dari sebuah proses akulturasi budaya.
Perlu mengetahui dan memahami bagaimana sebuah Negara berbudaya dan berkomunikasi dalam komunikasi antarbudaya sehingga dengan demikian kita akan memahami perbedaan dan kesamaan budaya kita dengan budaya orang lain, begitu juga dengan kita memahami bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh orang Jerman yang budaya jerman seperti layaknya budaya barat pada umumnya sangat berbeda dengan komunikasi ala Indonesia yang berkonteks tinggi dimana kebanyakan pesan bersifat implisit, tidak langsung, dan tidak terus terang dan bisa dikatakan lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal dalam berkomunikasi. Budaya jerman dan budaya barat (eropa barat, Amerika, dan Australia) yang berkonteks rendah ditandai dengan pesan lebih bersifat verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas, berterus terang, menekankan komunikasi langsung dan ekplisit: pesan-pesan verbal sangat penting, dan informasi yang akan dikomunikasikan disandi dalam pesan verbal.
Dari budaya konteks tinggi seperti yang telah disebutkan, tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang/masyarakat Jerman tidak pernah menggunakan bahasa nonverbal dalam berinteraksi. Oleh karenanaya, penulis ingin sedikit mengulas tentang keunikan bahasa nonverbal yang dilakukan oleh orang-oang Jerman pada umumnya dengan memberikan bandingan bahasa nonverbal dari orang-orang Indonesia.

PERILAKU NONVERBAL A LA JERMAN & INDONESIA
Setiap budaya memiliki kekhasan tersendiri termasuk dalam segi komunikasi nonverbal yang dilakukan oleh orang-orang Jerman, walaupun pada dasarnya sebagian isyarat mereka ada kemiripan dengan budaya bangsa Indonesia, tapi ada terdapat perbedaan sehingga membuat suatu Negara memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri dalam mengungkapkan sesuatu. Berikut adalah beberapa contoh perbedaaan perilaku nonverbal antara orang Jerman dengan orang Indonesia :
  • Dalam berjabat tangan ada pengecualian dari jerman umumnya orang jerman baik pria ataupun wanita tidak suka menyentuh apalagi memegang sesama jenis kecuali mereka mau dipanggil gay atau lesbi sedangkan di Indonesia, berjabat tangan sesama jenis saat bertemu adalah hal yang wajar, bahkan terkadang untuk kalangan tertentu di Indonesia, cipika-cipiki juga merupakan hal yang wajar.
  • Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum pria biasa berjabatan tangan dalam pergaulan sosial sedangkan di Indonesia, berjabat tangan lawan jenis bisa menjadi hal yang wajar tapi bisa menjadi hal yang dilarang jika dilihat dari sudut pandang islam. 
  • Di Jerman, pemuda yang menggandeng bahu sesama jenis dikatakan gay, sedangkan di Indonesia tidak jarang seorang pemuda menggandeng bahu temannya ketika berjalan kaki menyusuri trotoar tanpa ada kekhawatiran dikatakan homo, dan perilaku tersebut di Indonesia lebih menandakan keakraban kekerabatan maupun kekeluargaan 
  • Di jerman, acungan jempol juga dapat berarti satu, isyarat seperti ini terkadang digunakan oleh orang jerman untuk memesan satu (botol atau gelas) bir kepada pelayan sedangkan di Indonesia acungan jempol mungkin mengatakan bagus, oke, sip atau beres. 
  • Untuk menunjukkan istimewa (excellent) terkadang orang jerman mempertemukan ujung jempol dan telunjuk (membentuk lingkaran) dengan meninggalkan dan membiarkan ketiga jari lainnya berdiri sedankan di Indonesia, isyarat ini untuk menunjukkan bahwa segala sesuatunya sudah beres. 
  • Di Indonesia menyentuhkan telunjuk kanan di kening dengan posisi miring menjunjukkan bahwa seseorang itu sinting sedangkan di Jerman hal ini dilakukan dengan nenunjukkan telunjuk sebelah kanan ke kening sebelah kanan pula. Isyarat ‘gila’ di Jerman bisa berarti “pikirlah pakai otak” atau sebagai tanda untuk berpikir. 
  • Orang jerman sangat lazim menunjukkan sesuatu dengan telunjuk kepada atasannya semisal seorang atasan bertanya “dimana buku saya ?” sedangkan di Indonesia, hal tersebut adalah merupakan ketidaksopanan. Orang-orang kita biasanya menggunakan ibu jari menghadap ke atas dengan arah menunjukkan tempat/benda tersebut. 
  • Orang Jerman mengetuk-ngetuk meja dengan semua jari yang ditekukkan sehingga tangan terkepal ini bertujuan member applause seseorang, di Indonesia seseorang memberikan applause dengan menepuk-nepukkan kedua telapak tangan dan terkadang diiringi dengan berdiri untuk lebih menjadikan orang yang diberi applause itu istimewa. 
  • Orang Jerman menyuruh orang lain diam dengan cara meletakkan jari telunjuk di bibir sambil mengatakan “ssstt” hal ini mirip dengan apa yang dilakukan di Indonesia, tapi di Indonesia bisa juga dengan menempelkan ujung jari-jari tangan kanan ke telapak tangan sebelah kiri atau sebaliknya sehingga membentuk seperti huruf ‘T’, bisa juga dengan mengatup-atupkan antara ibu jari dengan dua jari di atasnya (telunjuk dan jari tengah) 
  • Orang Jerman meletakkan jempol ke lubang telinga, membiarkan kelingking berdiri dan menekuk ketiga jari lainnya, isyarat seperti ini berarti mengatakan”mari kita bicara lewat telepon nanti”, sama seperti di Indonesia hanya saja terkadang di Indonesia ditambah dengan tangan digerak-gerakkan. 
  • Dijerman isyarat yang buruk seperti mengacungkan jari tengah dapat membawa pelakunya ke meja hijau karena sudah termasuk pelanggaran yang sangat berat, sedangkan di Indonesia isyarat seperti itu memang sangat tidak sopan tetapi bisa tidak sampai membawa pelaku ke meja hijau. 
  • Di jerman memberikan bunga mawar merah kepada wanita dianggap sebagai suatu undangan yang romantis, tetapi menjadi tidak baik jika dikaitkan dengan hubungan bisnis.
Tanpa memperhatikan dengan sungguh-sungguh bagaimana budaya mempengaruhi komunikasi, termasuk komunikasi nonverbal dan pemaknaan terhadap pesan nonverbal tersebut, kita bisa gagal berkomunikasi dengan orang lain. Kita cenderung menganggap budaya kita, dan bahasa nonverbal kita sebagai standar dalam menilai bahasa nonverbal orang dari budaya lain. Bila kita langsung berkesimpulan tentang orang lain berdasarkan perilaku nonverbalnya yang berbeda itu, maka kita terjebak dalam etnosentrisme. Etnosentrisme bisa diartikan kecenderungan untuk menilai kelompok lain dengan standar, perilaku, dan adat atau kebiasaan dalam kelompoknya, serta melihat kelompok lain lebih rendah dibandingkan kelompoknya sendiri(Mulyana & Rakhmat:77) sederhananya dapat diartikan menganggap budaya sendiri sebagai standar dalam mengukur budaya orang lain dan disadari atau tidak, kita sering mengganggap kelompok kita sendiri, negeri kita sendiri,budaya kita sendiri, sebagai yang terbaik, yang paling bermoral.

KESIMPULAN
Seluruh keberhasilan proses komunikasi pada akhirnya tergantung pada efektivitas komunikasi, yakni sejauh mana para partisipannya memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Pada gilirannya, latar belakang budaya partisipan yang acapkali berbeda akan sangat menentukan efektivitasnya itu. Oleh karenanya, memahami budaya adalah merupakan prasyarat penting dalam keberhasilan komunikasi.
Pentingnya pesan non verbal ini misalnya dilukiskan  dengan frase, “bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakannya” . Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang.
Betapapun banyaknya kata-kata yang digunakan sebagai bahasa verbal di dunia ini, akan lebih kompleks ketika ada pendampingnya yakni bahasa nonverbal. Dapat dikatakan bahwa secara sederhana, bahasa non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata, mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, dan bermakna bagi orang lain.


Sumber :
http://dewey.petra.ac.id/dts_res_detail.php?mode=extended&knokat=6785
Mulyana,Deddy.2005.Komunikasi Efektif suatu pendekatan lintas budaya.Bandung.PT.Remaja Rosda Karya
Semoga bermanfaat ^.^

Search This Blog