Saturday, 23 November 2013

BUKU vs GADGET

“nanti pulang sekolah ke perpus yuk, baca-baca buku buat ngerjain tugas” Masih inget banget, dulu jamannya masih SMP-SMA mau ngerjain tugas kudu berlama-lama mantengin perpustakaan sekolah dan perpustakaan daerah buat dapetin materi-materi penunjang..
Tapi dewasa ini?? sayang banget agaknya buku semakin hampir terlupakan seiring tumbuhnya era digital. Semua serba elektronik dan menggunakan gadget canggih. Bagi manusia modern jaman digital, gadget adalah kebutuhan pokok sama seperti makan dan minum. Ke manapun dan di manapun seseorang harus berhubungan dengan gadget. Sebab, dengan cara itu mereka akan dianggap beradaptasi dengan kemajuan jaman. Dan tentu saja dengan mudah berkomunikasi dengan teman, kerabat, kolega, klien, di seluruh penjuru dunia.
Kecanggihan gadget plus anggapan bahwa manusia yang memiliki gadget adalah manusia canggih dan keren, membuat banyak orang mulai berburu dan menempeli dirinya dengan gadget. Image yang sengaja diciptakan oleh produsen gadget agar produk mereka laku di pasaran. Nah, dulu saja di jaman televisi, buku sudah bertekuk lutut, apalagi sekarang. Gak ada kerennya blas punya buku banyak dibandingkan yang punya gadget. Hampir kebanyakan orang gak ada yang bangga punya buku banyak. Mereka lebih bangga ketika mereka memiliki gadget canggih dan terbaru sampai-sampai mereka ngantri bin rela ngerogoh kocek dalam-dalam hanya untuk sebuah gadget.
Fine, sebagai manusia yang hidup di era digital juga gak banget lah kalo kuper tentang gadget tapi jangan lupakan juga budaya literatur kita. Yah, lumayan mengerikan dan bahkan memang benar-benar mengerikan. Karena masyarakat modern semakin jauh dari budaya literasi. Budaya membaca, menulis, berdiskusi, mendokumentasi hal-hal yang ada di sekitar. khawatir juga ketika nanti masa telah berganti, anak-anak generasi yang akan datang tidak akan tahu kondisi masyarakat di era ini, karena sedikitnya orang yang menulis dan mendokumentasi berbagai kejadian di masa ini.
Coba deh tengok masa lalu, banyak penulis yang menyisakan jejak jaman lampau di kertas-kertas. Bahkan kitab suci kita, al-Qur’an ditulis di lembaran-lembaran yang disebut mushaf. Kenapa? Kenapa sahabat memerintahkan agar al-qur’an ditulis di lembaran-lembaran?? Karena tulisan itu abadi dibandingkan apapun. Keberadaan tulisan-tulisan itu yang akhirnya membuat kita tahu kehidupan di masa lampau. Mempelajari hal-hal di masa lampau untuk menjadi referensi di masa yang akan datang. Jika, saat ini budaya itu tergerus oleh budaya instan akibat serbuan barang-barang digital, lama-lama banyak orang enggan menulis. Jangankan itu, untuk membeli buku saja merasa tidak mampu. Padahal, harga buku, terjemahan saja, ada yang dijual Rp 49 ribu per eksemplar. Jauh lebih murah dibandingkan harga handphone yang paling murah.
Yah, seseorang menjadi lebih percaya diri ketika bisa memperlihatkan banyak gadget yang dia punya, tentunya bukan gadget jadul kayak hapeku hahaha..mereka yang punya blackberry maupun android terbaru seolah-olah adalah orang terkeren di jagad ini. well, mungkin aku berlebihan n banyak yang gak setuju tentang tulisanku tapi setidaknya realita di lapangan menunjukkan hal itu :peace:  sebab, secanggih apapun gadget, mereka gak akan bisa menggantikan keunggulan buku sebagai sebuah media komunikasi kita dengan masa lalu. Secanggih apapun gadget kalau sudah rusak maka dia akan habis. Tapi, tulisan dalam bentuk buku sangat sulit rusak. Apalagi, kalau dirawat dengan baik.
Obsesi!!! Yapz, mereka lebih terobsesi dianggap sebagai orang canggih karena memiliki gadget terbaru dan menganggap memiliki buku tidak akan mengangkat status sosial mereka. Kondisi ini yang akhirnya membuat buku semakin dilupakan bahkan dianggap barang mahal. Meski, harganya sangat murah.
Mahal di sini bukan karena harga, tapi karena dianggap gak begitu penting. Sekarang gini, kalo misalnya emang buku dianggap penting, semahal apapun maka akan tetap dibeli. Banyak baju dan tas bermerek dengan harga jutaan rupiah tetap dibeli orang, karena mereka dianggap penting dan dibutuhkan. Prioritas memang mempengaruhi keputusan. Sepanjang seseorang menganggap buku bukan prioritas, maka selamanya dia tak akan sanggup membeli buku……………
HOW ABOUT YOU? 

Search This Blog